Festival Kampoeng Tionghoa: Bukti Multikulturalisme


  • 25-02-2019
  • Fadjar Efendy Rasjid

Perayaan tahun baru imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama di penanggalan tionghoa, dan berakhir dengan cap go meh. Beragam tradisipun dan aturan dijalankan sebelum hingga sesudah Tahun Baru. Tahun ini, Statistics Assistance Centre(SAC) Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) merayakan Tahun Baru Imlek dengan menyelenggarakan Festival Kampoeng Tionghoa. Seluruh warga Ubaya diundang untuk dapat menikmati Festival Kampoeng Tionghoa tersebut.

Pada tanggal 14 Februari 2019, acara ini dilaksanakan di Ruang Serba Guna Fakultas Psikologi (SGFP). Dalam acara yang rutin diadakan oleh SAC ini, ruang SGFP ini disulap dengan nuansa merah yang identik dengan imlek. "Ubaya adalah Indonesia kecil yang terdiri dari berbagai macam ras dan budaya. Perayaan Imlek merupakan bentuk kepedulian terhadap multikultur. Semoga kita lebih mengenal tentang kebudayaan Tionghoa yang berada di Indonesia," ungkap Prof. Dr. Yusti Probowati R., selaku Dekan Fakultas Psikologi dalam sambutannya.

Dalam Festival ini, SAC mendatangkan Chandra Wibawa (80th) selaku ahli budaya Tionghoa. Beliau diundang khusus untuk berbagi informasi seputar perayaan imlek. “Perayaan Imlek merupakan kesempatan berharga untuk berkumpul bersama keluarga”, ungkap Chandra. Pengunjung antusias mendengar pemaparan materi tersebut. Hal ini terbukti dengan banyaknya pertanyaan dari pengunjung yang mendengarkan pemaparan Chandra Wibawa. Selain seminar, acara diramaikan dengan atraksi barongsai, wushu, dan menyanyikan lagu mandarin. SAC juga melaunching buku yang berjudul “Tradisi Imlek Keluarga Kami”. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan dari mahasiswa dan dosen Fakultas Psikologi Ubaya tentang tradisi Imlek. (sas)

Update: 25-02-2019 | Dibaca 237 kali | Download versi pdf: Festival-Kampoeng-Tionghoa--Bukti-Multikulturalisme.pdf