Terbiasa Konvensional


  • 07-01-2016
  • Fadjar Efendy Rasjid

DI era modern saat ini, banyak buku yang disajikan dalam format digital (electronic book/e-book). Namun, tidak semua orang gampang beralih dari membaca buku secara konvensional ke e-book. Carissa Valerie, salah seorang di antaranya.

Rissa, sapaan akrabnya, lebih suka membaca buku dalam bentuk fisik daripada versi digital. "Mungkin karena sudah sangat terbiasa membolak-balik lembar buku. Kalau melihat di layar, justru saya tidak bisa menikmati membaca,” ungkap mahasiswa jurusan psikologi Ubaya itu.

Bagi dia, ada sensasi yang tidak didapatkan saat membaca buku digital. Sentuhan kulit tangan dengan kertas itulah yang membuat dia nyaman. Rasa nyaman tersebut membuat Rissa betah duduk berlama-lama untuk membaca. Dia bisa menyelesaikan 2–3 buku tebal dalam sehari. Kebanyakan yang dibacanya novel. Juga, buku-buku terkait dengan psikologi.

Namun, perempuan asal Sidoarjo itu juga pernah mencoba buku versi digital. Dia membacanya lewat e-book reader atau laptop. Tetapi, setelah beberapa waktu, dia menyerah.

Dengan hobinya itu, tidak heran koleksi buku Rissa menumpuk. Jumlah buku, novel, dan komiknya mencapai 260 buah. ’’Rumah saya sering disebut
perpustakaan mini oleh teman-teman,” katanya, lantas tersenyum. Tidak sedikit teman yang meminjam buku atau majalah koleksinya.

Sejak kecil, Rissa memang dibiasakan membaca oleh ibunya. Bahkan, saat kelas II SD, dia mulai dikenalkan pada novel. Karena kebiasaannya itu, Rissa sulit berhemat kalau urusan buku. ”Hampir setiap bulan pengeluaran saya habis untuk membeli buku baru,” ujar perempuan 21 tahun tersebut. (vo/c7/fal)

Sumber: Jawa Pos, 11 Okt 2015

Update: 07-01-2016 | Dibaca 4731 kali | Download versi pdf: Terbiasa-Konvensional.pdf