Nature For Water


  • 29-03-2018

Setiap negara yang bergabung di PBB peringati Hari Air Sedunia. Peringatan ini sebagai salah satu wujud komitmen negara, untuk memastikan akses terhadap air dan sanitasi untuk semua orang. Saat ini, ada lebih dari 663 juta orang hidup tanpa pasokan air yang aman di dekat rumah, menghabiskan banyak waktu mengantri atau melakukan perjalanan ke sumber yang jauh, dan mengatasi dampak kesehatan dari menggunakan air yang terkontaminasi (http://www.un.org/en/events/waterday/)

Nature For Water” dipilih menjadi tema pada tahun 2018. Melalui tema tersebut, masyarakat dunia ditantang untuk lebih memaksimalkan alam untuk memproduksi air layak pakai. Guna memahami lebih lanjut tantangan Indonesia sebagai angota PBB dalam memanfaatkan alam sebagai modal utama produksi air bersih, berikut wawancara singkat dengan Yunus Fransiscus S.T., M.Sc.selaku dosen di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Universitas Surabaya.

Q : Bagaimana menurut bapak kondisi air secara umum di Indonesia saat ini?

A : Secara umum kondisi air, khususnya terkait posisinya sebagai bahan baku untuk pemenuhan kebutuhan air layak pakai, mengalami penurunan secara signifikan baik secara kuantitas maupun kualitas. Keberadaan air dalam kondisi siap ambil/pakai dipengaruhi oleh siklus hidrologi, dimana siklus ini mengalami perubahan yang sangat ekstrem dalam kaitannya dengan fenomena perubahan iklim. Perubahan ekstrem tersebut berujung kepada perubahan pola distribusi air baku di seluruh wilayah Indonesia dan bahkan dunia.

Q : Serta bagaimana pula pasokan air di Indonesia?

A : Pola distribusi air yang berubah akibat fenomena perubahan iklim menyebabkan kondisi pasokan air di Indonesia mengalami perubahan. Beberapa area yang dulunya tidak memiliki masalah terkait dengan ketersediaan menjadi mengalami krisis. Data tahun 2017 dari Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulanan Bencana menginformasikan bahwa 105 Kabupaten/Kota, 715 Kecamatan dan 2726 Kelurahan/Desa di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara mengalami kesulitan mendapatkan air. Lebih khusus untuk wilayah Jawa Timur juga disebutkan bahwa terdapat 130 Desa yang tersebar di 15 Kabupaten mengalami kekeringan. Data – data tersebut memberikan tanda bahaya (alarm) bahwa apabila tidak disikapi dengan bijak, maka kondisi kesulitan mendapatkan air akan menjadi masalah nasional yang serius di masa mendatang.


 

Q : Apa sebetulnya persoalan utama yang masih kita hadapi tentang ketersediaan air layak pakai sampai sekarang ?

A : Persoalan utama yang kita hadapi terkait dengan isu kelangkaan air adalah :

  1. Pendidikan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan. Hal ini penting karena kondisi krisis air hampir selalu berujung dengan kebiasaan/perlakuan kita yang salah terhadap lingkungan, sebagai contoh :

  2. Kebiasaan memakai air yang berlebih; sampai hari ini masih banyak dari kita yang berpikir bahwa air tersedia dalam jumlah banyak dan mudah untuk mendapatkannya sehingga kita cenderung meremehkan keberadaannya. Hal ini secara sederhana tercermin dari cara kita memakai air untuk kebutuhan sehari – hari, apakah pada prakteknya kita sudah berpikir bagaimana menggunakannya dengan seefisen mungkin.

  3. membuang sampah/limbah baik yang berasal dari kegiatan rumah tangga maupun industry ke badan air (sungai), akan menyebabkan penurunan kualitas air tersebut. Hal ini jelas memperburuk keadaan, karena apabila secara kuantitas kita sudah mengalami ancaman maka seharusnya kita tidak boleh menyia – nyiakan sumber daya (air baku) yang telah ada

  4. Diseminasi kebijakan dan upaya fasilitasi bijak untuk penerapannya. Di area terkait, Pemerintah Indonesia telah memiliki kebijakan nasional mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, kita juga secara bulat menyatakan akan ikut melaksanakan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) dimana isu terkait ketersediaan air dinyatakan secara eksplisit pada Goal nomor 6 (Air Bersih & Sanitasi – Menjamin ketersediaan akses mendapatkan air bersih dan sanitasi sehat bagi semua), tentu ada banyak cara untuk mencapai goal tersebut, namun diseminasi tentang hal ini masih sangat minim dilakukan. Padahal apabila wacana tersebut sampai ke tingkat organisasi yang paling kecil maka diharapkan kesadaran lingkungan masyarakat bisa lebih cepat terbentuk. Upaya penegakan kebijakan/hukum di bidang lingkungan juga masih sangat lemah, dimana hal ini dapat terlihat dari banyaknya kasus pencemaran yang berakhir tanpa efek jera kepada pelakunya. Upaya konservasi yang lamban dan bahkan upaya alih fungsi lahan yang tidak tepat, yang malah mengorbankan area produktif (penyimpanan air).


 


 

Q : Berkaitan dengan tema yang ditetapkan oleh PBB tahun 2018, apa pendapat Bapak mengenai makna “Nature For Water” ?

A : Tema “Nature for Water” memiliki arti yang sangat mendasar, yaitu bahwa kita semua diajak untuk kembali memahami bahwa ketersediaan air sangat erat hubungannya dengan pengelolaan lingkungan yang baik. Ketika kita menjaga lingkungan dengan baik, sebagai contoh dengan mempertahankan area produktif (kawasan hijau, hutan) maka kita akan mempertahankan/meningkatkan area resapan air mengingat keberadaan tanaman akan sangat membantu proses infiltrasi air sehingga dapat tersimpan di ground reservoir. Di level yang paling sederhana, apabila kita sebagai individu maupun korporasi tidak membuang sampah/limbah ke sungai maka kita sebenarnya sedang melakukan “penyelamatan” terhadap ketersediaan air baku yang berkualitas.

Alam (nature) adalah penyedia air dengan kualitas bagus bagi manusia, jadi sangat mustahil untuk berharap mendapatkan pasokan air tanpa mempertahankan keberadaan alam dalam kondisi yang bagus pula. Melalui tema ini diharapkan kita semua mengerti bahwa mempertahankan kondisi lingkungan yang bagus adalah tanggung jawab kita semua (karena kita semua membutuhkan air).

Q : Setiap tahun, Indonesia mengalami kerusakan lingkungan bersama dengan perubahan iklim, mendorong krisis pasokan air guna pemenuhan kebutuhan manusia. Bagaimana pendapat Bapak?

A : Kata kuncinya adalah bagaimana kita bisa mencegah kerusakan lingkungan, karena apabila itu terus dibiarkan terjadi maka ancaman krisis air akan semakin serius. Yang perlu dicatat adalah bahwa kerusakan lingkungan itu disebabkan oleh manusia, melalui berbagai aktivitasnya yang tidak meletakkan pertimbangan ekologi sama pentingnya dengan pertimbangan ekonomi. Kerusakan lingkungan ini akan semakin memperparah fenomena perubahan iklim dan dampaknya, yang salah satu ekspresi mayor’nya adalah (kembali) krisis air. Jadi mari kita bersama mencegah kerusakan lingkungan !

Q : Apa yang harus kita lakukan sebagai warga negera Indonesia untuk bersama-sama menjawab tantangan “Nature For Water”?

A : Hal paling mendasar yang akan sangat membantu dalam menghadapi tantangan krisis air ke depan adalah perubahan pola pikir, yaitu dengan mulai mengerti (kembali) fungsi esensial lingkungan sebagai penyedia sumber daya alam, termasuk air, yang vital bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Dengan memahami hal tersebut maka ekspresi kita terhadap alam, termasuk didalamnya sikap kita dalam upaya pemanfaatan air, adalah sikap dan tindakan yang positif. Jika ini yang terjadi maka sudah akan membuat perbedaan yang signifikan dalam kesiapan kita menghadapi tantangan krisis air ke depan. Tentu saja hal tersebut akan semakin bagus jika dibarengi dengan penerapan teknologi kreatif di segala bidang, yang intinya dapat meminimalkan penggunaan air dan/atau memanfaatkan air buangan sebagai sumber bahan baku baru.

Di UBAYA sendiri, melalui Tim Program Green Campus studi tentang konservasi air sedang dilakukan. Pemetaan terhadap konsumsi air bersih untuk sanitasi dan produksi (kuantitas dan kualitas) air dari mesin pendingin (AC) sedang dilakukan. Diharapkan dalam waktu dekat ada penerapan praktis terkait upaya minimisasi air di lingkungan internal kampus.

Q : Apa pesan bapak kepada generasi muda khususnya, untuk dapat berkontribusi menjaga lingkungan air secara berkesinambungan?

A : Dewasa ini kita melihat bahwa peran generasi muda dalam berbagai bidang meningkat dengan sangat pesat. Saya berharap peran yang sama dalam bidang lingkungan juga semakin terasa. Kita membutuhkan agen – agen perubah yang dapat meletakkan aspek ekologi di tempat yang sejajar dengan aspek lain ketika kita berbicara upaya pemenuhan kebutuhan hidup. Terkait dengan air, secara nyata peran kita bisa diekspresikan mulai dengat cara yang sangat sederhana (seperti : memakai air dengan hemat, meminimalkan produksi buangan/sampah, membuang sampat pada tempatnya) sampai ke tingkat lanjut sesuai dengan latar belakang keahlian kita. Mari menghargai alam lebih lagi agar kita bisa meminimalkan resiko kelangkaan air.

Demikian tanggapan yang diberikan oleh narasumber kami. Semoga kita semua dapat menyadari betapa pentingnya menjaga lingkungan air, dan berjuang bersama-sama untuk menyelesaikan persoalan yang ada.

Update: 29-03-2018 | Dibaca 1511 kali | Download versi pdf: Nature-For-Water.pdf